JRN, Karawang, Jawa Barat – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Bukannya memberi contoh etika dan sikap bijak, salah satu anggota komite SMPN 1 Jatisari bernama Salya justru melontarkan ucapan yang dinilai merendahkan profesi seseorang bernama Amri Malau.
Dengan nada meremehkan, Salya menyebut Almarhum Amri Malau sebagai “wartawan tidak jelas”. Ia bahkan menuding Amri bukan wartawan, bukan LSM, dan tidak memiliki karya tulis yang dapat dibuktikan.
Pernyataan itu sontak memancing tanda tanya publik. Sebab tudingan terhadap profesi seseorang semestinya disertai data dan fakta, bukan sekadar opini yang berujung menyerang personal.
Ironisnya, saat Kepala SMPN 1 Jatisari Tony Andika Aryawan dimintai tanggapan terkait ucapan anggota komitenya, jawaban yang keluar justru terkesan ingin menjaga jarak dari polemik.
“Kepala sekolah tidak bertanggung jawab atas pernyataan komite,” ujarnya singkat.
Jawaban tersebut dinilai publik sebagai bentuk cuci tangan. Padahal, komite sekolah merupakan bagian yang melekat dalam lingkungan pendidikan dan membawa nama institusi sekolah di tengah masyarakat.
- Advertisement -
Alih-alih meredam suasana atau memberikan klarifikasi yang menyejukkan, pihak sekolah justru terkesan membiarkan polemik berkembang liar tanpa penyelesaian yang jelas.
Kini publik menunggu, apakah pihak sekolah dan komite berani membuka dasar tudingan mereka, atau justru memilih berlindung di balik pernyataan normatif sambil membiarkan nama seseorang diserang di ruang publik.

- Advertisement -
*C D Hermawan*



